Seperti gelas yang diisi dengan air jernihIman seseorang itu berubah-ubah kadang naik,┬ákadang juga turun. Bukan cuma perut yang diberi makan biar kenyang. Iman juga perlu diberikan asupan gizi. Ketika aku berbuat kesalahan / dosa terkadang aku berpikir “udah terlanjur dosa, ga pantas menghadap kepadaNya, aku kotor”. Terus ada lagi bisikan dari sisi lain mengatakan “ngapain sholat, kalau berbuat dosa?”, jadi kalau udah terlanjur dosa ga sholat lagi dong, maka terhentilah yang baik-baik dan yang kotor menetap.

Suatu ketika, aku membuat kopi meminumnya hingga hanya tersisa ampasnya. Sebelum ampasnya kering segera aku cuci gelasnya biar ga susah saat membersihkannya. Aku membuka kran air di westafel dengan deras, hingga gelas tersebut penuh lalu tumpah membanjiri westafel menjadi hitam kopi.

Aku menghayal seraya membiarkan air terus memasuki gelas hingga menjadi jernih, tiba-tiba aku berpikir “oh begitu ya, ternyata bisa jadi bersih┬ákalau airnya terus diisi sampai tumpah”. Aku mengulang hal yang sama dengan menggunakan kecap lalu aku merekamnya menggunakan smartphone.

Jadilah gelas yang walaupun hitam kotor berisi air ampas kopi namun tetap mengisi air jernih hingga air tersebut membersihkan ampas kopi tersebut

Seperti itulah hidup ini yang ketika sedang tidak jernih dan kita membuat banyak kesalahan, jangan berhenti memohon ampun kepadaNya, tetap istiqomah dijalannya. Hanya saja, kita tidak mengetahui seberapa kotor / bersih diri kita, jangan sampai kematian lebih dulu menghampirimu namun kita belum sempat membersihkan diri.

Hidup di dunia hanya sekali dan sementara namun menjadi penentu bagaimana kehidupan di akhirat.

Aku menulis ini sebagai self reminder dan alangkah lebih baik jika tulisan ini menjadi pengingat bagi sesama muslim, so jangan mengotori hati yang dititipkan oleh Allah, karena kita dilahirkan dalam keadaan hati yang bersih jadi kembalilah dalam keadaan hati yang bersih juga.